Teropong Birokrasi Sumsel
Otonomi Daerah (otoda) belum berhasil mengentaskan kemiskinan. Pejabat yang semestinya melayani masyarakat, justru minta dilayani. Ini diperburuk oleh mampetnya komunikasi antara pemerintah pusat dengan daerah.
Untuk memperbaiki kinerja
pemerintahan di daerah, Badan Perencanaan Pembangunan Nasional
(Bappenas) yang menggandeng Universitas Gajah Mada, melakukan survei.
Sistem pembangunan birokrasi di Provinsi Sumsel adalah satu dari
sembilan daerah di Indonesia yang jadi acuan nasional. Survei
dilaksanakan selama seminggu, mulai Senin (20/10), dipimpin oleh
Dr Wahyudi Kumorotomo MPP, dosen UGM. Rekrutmen tujuh petugas tenaga
lokal sebagai surveyor telah dilaksanakan di Hotel Carissima, Sabtu
(18/9) lalu.
Dr Wahyudi (44) baru beberapa hari di Sumsel. Ia belum tahu banyak
kondisi birokrasi daerah terkaya nomor lima ini. Informasi baru sebatas
penyerapan APBD yang masih rendah hingga Oktober dan pengadaan barang
jasa yang bernuansa KKN. “Setelah survei selesai, baru kita dapatkan hasilnya dan dilaporkan ke
pusat sebagai masukan rencana pembangunan jangka panjang. Mohon maaf
kalau seandainya nanti Sumsel peringkatnya paling rendah. Kita lihat
faktanya,” kata Wahyudi yang menyelesaikan program doktoralnya di
Penang, Malaysia.
Menjadi sedikit masalah tentunya karena besar kemungkinan survei
dilaksanakan satu kali ini saja. Sementara pucuk pimpinan pemerintahan
di Sumsel akan berganti 7 November nanti. Bukankan H Alex Noerdin,
sebagai gubernur terpilih, telah memprogramkan sekolah dan pendidikan
gratis? Menjawab hal itu, Dr Wahyudi mengatakan, “Di Sumsel untuk sementara
kali ini saja. Tapi kita akan lihat apakah ada perkembangan. Hasil
survei dapat dijadikan bahan masukan untuk pemimpin yang baru. Kita
bersedia memberikan data yang kita olah untuk diperbaiki kalau memang
ada kekurangan,” katanya.
Biasa Diperintah
Secara umum, kata Wahyudi, kinerja birokrasi di Indonesia masuk
katogori kurang optimal. Banyak faktor yang mendasari hal itu. Pertama,
dulu birokrasi dikendalikan dari pusat, jadi banyak kemudian yang
terbiasa menunggu perintah, tidak kreatif. Mereka bekerja semaunya, kalau ada niat, waktu, dan perintah baru
kerja. Setelah era otonomi daerah, kata Wahyudi, harusnya tidak ada
lagi yang menunggu perintah. Ini juga salah satu penyebab tingginya
angka kemiskinan.
Ia memberi contoh, Departemen Kesehatan banyak meluncurkan program,
tapi setelah otoda malah kinerjanya menurun. Banyak orang miskin yang
tidak terbantu. Dana banyak dikorup, pegawai kerja asal-asalan karena
tidak terbiasa bekerja secara bertanggung jawab. Hanya ada beberapa daerah saja yang berani melakukan terobosan untuk
memudahkan masyarakat, seperti layanan satu atap untuk perizinan dan
investasi, sekolah gratis, dan pendidikan gratis.
“Ini karena salah budaya kerja dan salah memahami otoda. Mereka
berpikir dalam otoda uangnya untuk pejabat, padahal uang itu milik
rakyat dan untuk kemakmuran rakyat. Utamanya untuk memang sektor
pendidikan dan kesehatan,” kata Wahyudi.
Di Departemen Keuangan, misalnya, menafsirkan birokrasi hanya terbatas
menaikkan gaji supaya kinerja baik. Tapi ternyata, setelah dinaikkan
gajinya kinerjanya bukannya menjadi baik malah kemudian mereka
melakukan banyak korupsi. “Contohnya di bea cukai. tempo hari. Orang-orang ini gajinya sudah
tinggi tapi ternyata korupsi tetap jalan terus dan bahkan lebih gila
lagi. Tidak masalah kita berikan gaji lebih tapi tingkatkan juga
tangggung jawab,” katanya.
Komunikasi antara pusat dengan daerah juga mampet dan saling
menyalahkan. Pusat mengatakan ini sudah otoda mestinya daerah kreatif
sementara daerah mengatakan kami tidak mendapat kejelasan juklak dan
juknis (seperti biasa diperoleh sebelum otoda) pelaksanaan. Jadi saling
menunggu.
Tak Perhatikan Kompetensi
Sistem rekrut PNS juga kerap tidak memerhatikan kompetensi. Pemda
menyeleksi PNS dari pegawai honorer daerah (honda) yang kuat unsur
pertemanan dan keluarga (nepotisme). “Akibatnya tidak betul-betul selektif. Sayangnya, di kantor Menpan, Pak
Menterinya sendiri itu pernah mengeluarkan SK di mana pegawai honorer
itu otomatis direkrut tanpa seleksi. Ya kita dapatkan SDM yang kurang
baik. Kita akan lihat di sini nanti bagaimana,” kata Wahyudi.
Pengunaan APBD rata-rata nasional sangat memprihatinkan. Lebih dari 69
persen APBD hanya terserap di gaji pegawai dan biaya perjalanan dinas.
Untuk masyarakat hanya 30 persen, itu pun kadang-kadang masih dipotong
lagi. Begitu juga public service. Masih terlihat saat ini swasta itu lebih
cepat tanggap memenuhi keinginan rakyat. Sementara urusan yang terkait
pemerintah itu banyak terdapat keluhan. Lembaga kita citranya masih
negatif dan jauh tertinggal dibanding Thailand, Malaysia, apapagi
Singapura.
Namun demikian, kata Wahyudi, kita mesti tetap optimis sepanjang semua
komponen seperti pers, lSM, Pemda dari pimpinan sampai ke bawah bekerja
bersama-sama. “Kita sudah digaji dari uang rakyat maka bertanggung jawab sepenuhnya
untuk kemakmuran rakyat. Kalau sektor strategis itu diperhatikan, saya
yakin masyarakat kita akan jauh lebih makmur dari sekarang,” kata pria
asal Sleman, DIY itu. (ahf)
Sumber : http://www.sripo-online.com















