Artikel Kesehatan

Beban Ganda Gizi di Indonesia

Rusmini Wiyati Jun 27, 2019
Gambar : Suara Merdeca

IMT   =

BB (kg)

TB X TB (m)

Saat ini Indonesia tengah menghadapi beban ganda terkait masalah gizi. Di satu sisi, Indonesia menghadapi masalah gizi kurang yang berdampak pada kondisi tubuh yang pendek atau stunting dan kurus dan di sisi lain juga dihadapkan pada masalah overnutrition, yakni masalah obesitas atau kegemukan. Hasil Riskesdas tahun 2018 menunjukkan balita stunting di Indonesia sebanyak 30,5%, sedangkan prevalensi obesitas pada orang dewasa sebanyak 21,8%.

Stunting atau anak bertubuh pendek adalah suatu kondisi kurang gizi kronis yang disebabkan karena kurangnya asupan gizi serta kurangnya pengetahuan orang tua akan pentingnya kesehatan. Dampak stunting pada anak dapat mempengaruhinya dari ia kecil hingga dewasa. Dalam jangka pendek, stunting pada anak menyebabkan terganggunya perkembangan otak,  metabolisme tubuh, dan pertumbuhan fisik. Sekilas proporsi tubuh anak stunting mungkin terlihat normal, namun kenyataannya ia lebih pendek dari anak-anak seusianya. Seiring dengan bertambahnya usia anak, stunting dapat menyebabkan berbagai macam masalah, di antaranya:

  1. Kecerdasan anak di bawah rata-rata sehingga prestasi belajarnya tidak bisa maksimal.
  2. Sistem imun tubuh anak tidak baik sehingga anak mudah sakit.
  3. Anak akan lebih tinggi berisiko menderita penyakit diabetes, penyakit jantung, stroke, dan kanker.

Sedangkan obesitas merupakan faktor risiko PTM seperti Penyakit Jantung Koroner (PJK), Diabetes Melitus (DM) atau kencing manis, dan hipertensi atau darah tinggi. Obesitas dapat dihindari dengan membiasakan pola perilaku hidup sehat, salah satunya dengan menjalankan program Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS) yaitu aktivitas fisik minimal 30 menit setiap hari, mengonsumsi buah dan sayur, tidak merokok, memeriksakan kesehatan secara rutin, membersihkan lingkungan, dan menggunakan jamban.

Salah satu upaya untuk mencegah semakin meningkatnya permasalahan gizi tersebut, peran kader posyandu balita, posbindu dan posyandu lansia sangat diperlukan. Peningkatan kunjungan balita di posyandu (D/S) dapat meningkatkan deteksi dini masalah gizi pada balita baik gizi kurang maupun gizi lebih sehingga dapat segera dilakukan penanganan yang tepat. Demikian juga peningkatan kunjungan usia produktif (15-59 tahun) di posbindu dan usia lanjut (≥ 60 tahun) di posyandu lansia dapat meningkatkan deteksi dini masalah gizi maupun penyakit tidak menular yang lain seperti hipertensi dan diabetes melitus sehingga dapat segera dilakukan pengobatan. Selain deteksi dini masalah gizi dan penyakit tidak menular, di posyandu balita, posbindu dan posyandu lansia masyarakat juga bisa mendapatkan penyuluhan dari kader dan petugas kesehatan yang ada sesuai dengan permasalahan yang dihadapinya untuk meningkatkan kesehatannya.

Inovasi dari kader dan petugas kesehatan sangat diharapkan agar dapat meningkatkan peran serta masyarakat dalam memanfaatkan keberadaan posyandu balita, posbindu dan posyandu lansia di wilayah kerjanya dalam rangka menurunkan kasus gangguan gizi dan penyakit tidak menular akibat pola makan dan gaya hidup yang salah.