Informasi Publik

Mengenal Penyakit Kusta

Rusmini Wiyati Jan 27, 2020

Dalam rangka peringatan Hari Kusta Sedunia di Bulan Januari 2020 ini, perlu kita sosialisasikan kembali beberapa hal tentang penyakit Kusta. Kusta merupakan penyakit yang menyerang sel syaraf tepi, sehingga menyebabkan mati rasa pada bagian tertentu. Kusta atau disebut leprosy termasuk jenis penyakit dengan stigma tinggi, orang merasa ketakutan mengalami penularan sebab melihat dampak kusta secara fisik yaitu cacat/ kerusakan tubuh yang nampak mengerikan. Padahal faktanya kusta merupakan penyakit menular yang tidak mudah menular serta dapat disembuhkan tanpa mengalami disabilitas.

Indonesia dengan angka kusta peringkat ketiga tertinggi di dunia setelah India dan Brazil. Data Kementrian Kesehatan menyebutkan angka penemuan kasus baru Indonesia: 6,07 per 100.000 penduduk. Total kasus baru sebanyak 15.910. Secara nasional, Indonesia sudah mencapai eliminasi kusta (angka kasus kusta terdaftar atau angka prevalensi <1/10.000 penduduk) pada tahun 2000. Namun masih ada 10 Provinsi yang belum mencapai eliminasi kusta. Selanjutnya di tingkat Kabupaten/Kota, pada akhir tahun 2017 masih tedapat 142 Kabupaten/Kota belum mencapai eliminasi kusta yang tersebar di 22 Provinsi. Sepuluh provinsi yang belum eliminasi kusta tersebut adalah Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Barat, Gorontalo, Sulawesi Utara, Maluku, Papua, Maluku Utara, dan Papua Barat.

    Ciri kusta seperti panu, namun mati rasa. Pada kulit ditandai dengan bercak putih maupun bercak merah dan mati rasa, kadang berupa benjolan-benjolan di lengan, wajah, badan, dan telinga. Pada saraf tepi ditandai dengan mati rasa pada area telapak tangan dan atau telapak kaki yang mengalami kerusakan saraf, kelumpuhan di tangan dan kaki, kering, dan tidak berkeringat. Jika kelainan itu terjadi pada mata ditandai dengan refleks kedip berkurang, dan kelopak mata tidak menutup dengan baik. Masalah yang lebih seriusnya adalah terjadi cacat menetap seperti jari bengkok, memendek atau terputus, kelumpuhan tangan dan kaki, kelopak mata tidak menutup (lagoftalmos), dan kebutaan.

      Bagian tubuh yang sering terdeteksi kusta adalah punggung, sekitar telinga dan paha. Cirinya kulit terdapat bercak seperti panu dan kemerahan, namun tidak terasa gatal. Ketika ciri itu diraba, atau digosok dengan kapas, maupun ditusuk dengan jarum tidak terasa, maka ada indikasi kusta. Langkah yang tepat segeralah periksa di Puskesmas terdekat.

        Bakteri penyebab kusta adalah mycobacteriumleprae, berbentuk basil/ batang. Sedangkan obat kusta namanya MDT atau multi drug terapy, adalah kombinasi obat rekomendasi WHO yang bisa diperoleh secara gratis di Puskesmas. Lama pengobatan 6 bulan untuk tipe PB (pausibasiler) atau kusta kering, dan 12 bulan untuk tipe MB (multibasiler) atau kusta basah. Tujuan dari pengobatan adalah memutus rantai penularan, mencegah cacat atau menangani agar cacat tidak berlanjut, menangani komplikasi, serta memperbaiki kualitas hidup penderita.

          Kusta ditularkan oleh penderita yang belum mengkonsumsi obat MDT, ditularkan kepada orang lain yang melakukan kontak langsung dengan penderita secara terus menerus dalam jangka waktu lama dengan masa inkubasi rerata 2-5 tahun. Maka obyek penularan biasanya orang satu rumah atau tetangga dekat. Fakta lainnya, 95 persen orang kebal kusta, sisanya 5 persen adalah 70 persen orang yang tertular atas ketahanan tubuhnya mampu sembuh dengan sendirinya, dan 30 persen berikutnya orang yang tertular harus berobat. Namun kemungkinan kecil penularan ini jika lambat pengobatan akan berdampak kecacatan secara permanen.

          Minimnya pengetahuan masyarakat tentang kusta, berdampak pada rendahnya penerimaan terhadap orang yang mengalami kusta. Warga masyarakat cenderung jijik, takut dan ngeri lalu memutuskan untuk menjauh, jika perlu mengasingkan penderita kusta. Tindakan tersebut selain diskriminatif dan melanggar HAM juga memberi ruang bagi penularan kusta. Langkah yang tepat semestinya adalah mengupayakan pengobatan ke Puskesmas.

          Minimnya pengetahuan masyarakat terhadap deteksi dini kusta, juga menyebabkan temuan adanya kasus kusta selalu terlambat. Keterlambatan pengobatan menyebabkan kerusakan fisik dan disabilitas, sehingga kusta semakin identik dengan kecacatan.

          Penjelasan cara makan obat kusta kepada keluarga penderita

          Menurut Kepala Seksi Pencegahan, Pengendalian Penyakit Menular Dinas Kesehatan Kabupaten OKU Amrina Yulita, SKM, saat ini di Kabupaten OKU ditemukan 11 kasus kusta (prevalensi kusta <1/10.000 jumlah penduduk), kondisi ini masih berada di bawah target nasional. Upaya yang sudah dilakukan untuk pencegahan dan penanggulangan kusta di Kabupaten OKU antara lain : penyuluhan baik secara langsung maupun dengan pemasangan banner, penjaringan kasus kusta/deteksi dini kusta, pemeriksaan kontak serumah penderita kusta serta sosialisasi untuk menghilangkan stigma kusta di masyarakat. Dengan upaya yang telah dilakukan ini diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang penyakit kusta serta dapat meningkatkan kepedulian masyarakat untuk melakukan deteksi dini terhadap penyakit kusta. (RW)

          Sumber : Kompas